Kamis, 07 Agustus 2014

Perpisahan itu tiba

        Kau berjalan gontai ke arahku, berdiri tepat dihadapanku. Saat mataku dan matamu saling berbicara akan Apa yang dikatakan oleh hati. Pipiku mulai basah, kau menghapusnya. Tapi tanganmu yang satunya lagi tetap memegang koper dengan erat. Ingin rasanya aku membuang jauh benda itu, benda yang akan menemanimu sampai ditempat tujuan. Sedangkan aku? Hanya mampu duduk terpatung menunggumu. menepiskan segala rindu yang mengepul dalam oxigen yang ku hirup.

“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN, 
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”

Saat kau ucapkan kata perpisahan itu...

       Kala itu matahari telah menarik diri dari peraduannya, kilauan bintang telah mencoba menggantikan sang senja dari kerajaannya. Langit begitu indah saat pergantian waktu, namun tak seindah rasa yang terlanjur berkecamuk jauh dilubuk hatiku, sanubariku terasa tersayat-sayat, nampaknya roh ku pun telah jauh berlari, menjauh dari tubuhnya, seketika aku merasa sekujur tubuhku kaku dan perlahan mataku mengeluarkan butira-butiran beningnya, namun kali ini frekuensinya lebih cepat, debitnya pun lebih banyak, saat itu kau berkata ingin "berpamitan" sungguh kata itu telah merobohkan benteng pertahanan ku yang selama ini dengan susah payah ku bangun, untuk bisa kuat saat kau katakan ucapan berpisah. 
    Butiran bening itu terus mengalir, kucoba ku bendung namun aku tak kuasa. Kau begitu fasih mengucapkan kata perpisahan itu, Perpisahan yang begitu berat untukku. Aku tau akan kehilangan mu suatu hari nanti, tapi aku tak menyangka akan secepat ini kau pergi. Kasih, tuntutlah ilmu yang sebanyak-banyaknya disana. Aku selalu berdo'a untuk setiap kelancaran urusan mu, Tetaplah berpegang teguh pada agamamu, dan jangan lupa kerjakan kewajibanmu. Namamu akan selalu terselip dalam setiap bait do'aku.


“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN, 
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”

Sabtu, 12 Oktober 2013

Kisah seorang sahabat


Ini adalah sebuah kisah seorang sahabat, yang menceritakan kisah asmaranya  bersama sang pujangga disebuah bilik dalam perpustakaan, bersekat rak-rak buku, dia perlahan menceritakan awal kisah asmaranya. Dia terus bercerita, aku asik membolak-balik lembaran demi lembaran  buku, namun pikiranku tetap fokus kepadanya, fokus mendengarkan keluh kesah hatinya. Dia tampak serius bercerita. Dan ceritanya mengalir begitu saja.
Dia bercerita tentang betapa menyakitkannya menjalani hari-hari bersama orang yang dia sayangi tanpa mengetahui pasti apakah orang yang dia sayangi itu juga menyayanginya. Melewati hari demi hari dengan seorang yang telah berstatus sebagai kekasih. Kekasih yang manisnya hanya dia awal saja, kekasih yang mungkin telah luntur kasih sayangnya. Kekasih yang tak pernah mengerti inginnya, kekasih yang selalu ingin menjadikannya orang lain, kekasih yang tak pernah menanyakan apa mimpi-mimpinya. Dia bodoh. Bodoh karna telah mempertahankan seorang kekasih yang jelas-jelas tidak memperlakukannya layaknya seorang kekasih. Alasannya klise, karena cinta. Cinta telah membuatnya kuat, cintalah yang telah membuatnya bertahan hingga sekarang, cinta yang perlahan juga akan mengikis kesabarannya. Namun mungkin dia lupa, bahwa cinta itu membahagiakan, bukan menyiksa seperti ini. Cinta itu diperjuangkan oleh dua hati, bukan seorang diri. Dia mungkin masih labil dan tak pandai mengatur emosinya, itu tak bisa di pungkiri. Dia begitu benci diabaikan, namun mengapa masih bertahan hingga saat ini.
Kadang aku ingin memotong pembicaraannya, aku ingin menyampaikan pendapatku. Tapi ku urungkan niatku, air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya membuatku larut dalam kisahnya. Dia begitu sabar menghadapi kekasihnya,  hanya mampu terdiam saat menyaksikan hal-hal yang terjadi tanpa persetujuannya. Tak dianggap. Dia hanya mampu mengikuti jalan yang telah digariskan Tuhan. Dia selalu berharap agar Tuhan memeluknya setiap dia merasa tak mampu lagi.
Entah sampai kapan dia akan mempertahankan hubungannya, tapi bagaimana dia bisa sekuat itu mempertahankan suatu hubungan jika hanya dia seorang diri yang berjuang. Kadang dia menutupi kesedihannya dengan seulas senyum, namun hatinya sudah terlalu rapuh dikikis oleh rasa kecewa. Dia wanita yang tangguh. Berjuang sendiri mempertahankan cintanya, tak peduli bentakan dari sang kekasih, karena sekeras apapun bentakan yang diberikan kepadanya, tak akan mampu menumbangkan benteng pertahanannya. Dia tetap pada pendiriannya, memperjuangkan sendiri cintanya.
Dia bukan batu, dia juga tau rasa sakit itu seperti apa. Dia juga tau di abaikan itu seperti apa. Dan dia juga tau tak dianggap itu seperti apa. Seorang wanita tak meminta kekasihnya melakukan banyak hal untuknya, tapi cukup memberinya kabar, dan menanyakan kabar, adalah sebuah hal manis yang seorang wanita selalu harapkan.
“Semoga kelak kau akan bahagia kawan, semoga kekasihmu segera sadar besar arti pengorbananmu selama ini, semoga kekasihmu paham apa yang telah kau mimpi-mimpikan. Semoga kekasihmu mampu memperjuangkan mu saat kau sudah merasa lelah, seperti dulu kau memperjuangkannya.”



“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN, 
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”

Kamis, 25 April 2013

Galau pasti berlalu part 5


                                            
    Akhir-akhir ini aku merasa ada sepasang bola mata yang selalu mengekori langkahku. Mata yang tak pernah berhenti memancarkan sinarnya, mata yang begitu berbinar kala berjalan seiring dengan senyum. Mata yang menyimpan begitu banyak misteri tak terjawabkan. Mata yang sanggup meluluhkan semua panca indraku.
Aku tidak sedang berimajinasi, aku tau sepasang mata itu nyata. Aku tau mata itu diam-diam mengikuti setiap inci pergerakanku. Aku tau, sering kali dia mencoba menyapa, tapi tak terhiraukan olehku. Aku bukan tidak mendengarnya. Hanya saja, terkadang bibir ini terasa kelu untuk menjawabnya. 
Entah sudah berapa banyak luka yang sepasang mata itu telah perbuat, sehingga bibir ini begitu kelu untuk berucap meski hati sudah meronta ingin menjawabnya. Aku sama sekali tak bermaksud mengacuhkanmu. Namun, terkadang waktu membuatku terlihat bodoh. Memperlihatkan kebodohanku dihadapanmu, dengan terus menerus membohongi perasaan ini.
Maafkan keegoisanku yang  tak bernalar. Bukan maksudku untuk berubah,hanya saja waktu dan status telah merentangkan jarak diantara kita. Jarak yang telah di isi oleh dirinya. Maafkan aku yang selalu memintamu untuk tetap seperti dulu, meski aku tau tidak mungkin.
Jadi, jangan pernah tanyakan mengapa senyumku tak seperti dulu lagi. Karna jawabannya hanya 1. KAMU.



“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN, 
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”

Galau pasti berlalu part 4



  
   Malam ini, bolehkah aku meminjam kekasihmu? izinkan aku memimpikan kekasihmu, malam ini saja. Aku sedang merindukannya, aku rindu senyumnya, aku rindu saat dia menatapku, aku rindu caranya berbicara kepadaku. 
   Aku tak akan meminjamnya lama, karna aku tau, aku akan segera bangun dari mimpiku dan kembali mendapati kenyataan bahwa dia telah menjadi milikmu. Namun izinkan aku menghadirkannya kembali disisiku, kirimkan kekasihmu dalam mimpiku. Pinjamkan dia malam ini saja, akan ku jaga dia sebaik dulu aku menjaganya, sebelum dia bersamamu.
Dan ketika aku terbangun, kau boleh mengambilnya kembali. Tapi tidak dari dalam hatiku. Karna aku sudah menyimpannya untuk selalu hadir dalam kesunyianku. Menemani hari-hari sepiku, Menjagaku dalam kekosongan. Menopangku dalam setiap keraguan.





Izinkan aku memimpikan mu malam ini
memimpikanmu dengan seulas senyum.
Bukan dengan deraian air mata kekecewaan…




“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN, 
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”




Galau pasti berlalu part 3



   
        Aku menyadari kau tak seperti dulu lagi. Kau berbeda. Tak ada lagi kau, alasan yang selalu membuat seulas senyum terurai dibibirku. Tak ada lagi kau, yang menjadi pencipta semangatku ketika putus asa. Kini, tak akan adalagi candaan konyol yang selalu kau lontarkan dalam bentuk pesan singkat, tak akan adalagi suara lembut  yang bergema lewat telepon. Tak akan adalagi kau yang menemani hari-hariku untuk membuat kenangan baru.
    Kenangan itu berhenti tercipta saat kau mulai sibuk bersama yang lain, wanita baru yang lebih menarik perhatian mu, wanita yang mampu memalingkan hatimu, wanita yang begitu beruntung memenangkan cintamu. Wanita yang secara tidak langsung merampas kebahagiaanku.
Tidakkah kau sadar arti senyumku selama ini? Tidakkah kau sadar arti perhatianku selama ini? Tidakkah kau paham apa arti pengorbananku selama ini? Tidakkah kau merasakan deras aliran darahku ketika kita bersentuhan? Ketika tanganku dan tangan mu saling berjabat. Ketika matamu dan mataku saling menatap.
    Kini kau pergi, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Memang tak terjadi apa-apa. Dan tidak akan pernah terjadi apa-apa, itulah seharusnya. Semoga kau bersama wanita yang tepat. Wanita yang mampu mengasihimu, melebihi kasihku padamu. Aku selalu menghargai setiap waktu kebersamaan kita, waktu yang setiap detiknya kuhabiskan untuk menatap bebas garis wajahmu. Waktu yang selalu ku manfaatkan untuk menghafal lekuk senyum mu. Kebiasaan yang tak lagi bisa  kulakukan setelah kau bersamanya. 
    Merelakan kepergianmu tak pernah terbayangkan, kau pergi tanpa membawa hatiku. Tapi kau meniggalkan hatimu bersamaku. Aku akan selalu merindumu, tawamu, candamu, desah nafasmu, dan semua tentang mu tak pernah kecil dimataku. Setiap inci pergerakan mu selalu terekam dalam memoriku.


 Tuhan, ajarkan aku menjadi wanita yang ikhlas!   



“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN, 
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”

                                     

Galau pasti berlalu part 2



 
   Aku. Aku sendiri. tak bersama mu lagi, kamu yang  selalu saja menjalari otakku, mengganggu pikiranku, membuatku semakin sulit melupakan semua kenangan manis saat bersamamu. Kenangan yang mampu membuatku bisu.
Caramu membuatku tersenyum, caramu menatapku, seakan-akan masih menari indah dipelupuk mata, menghiasi setiap kesunyian yang selalu datang. Aku selalu menikmati kesunyian itu, meski yang ku temui hanya keheningan dan bayang-bayangmu.

SEPI.

Kadang aku terlelap dalam kesunyianku, membawa bayang-bayangmu kedalam alam bawah sadarku, menggenggam erat jemariku, menenggelamkanku dalam dekapan hangatmu. Tak ingin rasanya tersadar, menyudahi setiap kegilaan yang kupikirkan, kegilaan yang mungkin tak akan pernah kudapatkan dalam kehidupan nyata.
Dan kini, malam ini. Izinkan aku kembali membawa bayangan mu, untuk menemani kesunyianku.




“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN, 
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”