Akhir-akhir ini aku merasa ada sepasang bola
mata yang selalu mengekori langkahku. Mata yang tak pernah berhenti memancarkan
sinarnya, mata yang begitu berbinar kala berjalan seiring dengan senyum. Mata
yang menyimpan begitu banyak misteri tak terjawabkan. Mata yang sanggup
meluluhkan semua panca indraku.
Aku tidak sedang berimajinasi, aku tau
sepasang mata itu nyata. Aku tau mata itu diam-diam mengikuti setiap inci
pergerakanku. Aku tau, sering kali dia mencoba menyapa, tapi tak terhiraukan
olehku. Aku bukan tidak mendengarnya. Hanya saja, terkadang bibir ini terasa
kelu untuk menjawabnya.
Entah sudah berapa banyak luka yang sepasang
mata itu telah perbuat, sehingga bibir ini begitu kelu untuk berucap meski hati
sudah meronta ingin menjawabnya. Aku sama sekali tak bermaksud
mengacuhkanmu. Namun, terkadang waktu membuatku terlihat bodoh. Memperlihatkan
kebodohanku dihadapanmu, dengan terus menerus membohongi perasaan ini.
Maafkan keegoisanku yang tak bernalar.
Bukan maksudku untuk berubah,hanya saja waktu dan status telah merentangkan
jarak diantara kita. Jarak yang telah di isi oleh dirinya. Maafkan aku yang
selalu memintamu untuk tetap seperti dulu, meski aku tau tidak mungkin.
Jadi, jangan pernah tanyakan mengapa senyumku
tak seperti dulu lagi. Karna jawabannya hanya 1. KAMU.
“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN,
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar