Aku menyadari kau tak seperti dulu lagi.
Kau berbeda. Tak ada lagi kau, alasan
yang selalu membuat seulas senyum terurai dibibirku. Tak ada lagi kau, yang
menjadi pencipta semangatku ketika putus asa. Kini, tak akan adalagi candaan konyol yang selalu
kau lontarkan dalam bentuk pesan singkat, tak akan adalagi suara lembut yang
bergema lewat telepon. Tak akan adalagi kau yang menemani hari-hariku untuk
membuat kenangan baru.
Kenangan itu berhenti tercipta
saat kau mulai sibuk bersama yang lain, wanita baru yang lebih menarik
perhatian mu, wanita yang mampu memalingkan hatimu, wanita yang begitu
beruntung memenangkan cintamu. Wanita yang secara tidak langsung merampas
kebahagiaanku.
Tidakkah kau sadar arti senyumku selama ini?
Tidakkah kau sadar arti perhatianku selama ini? Tidakkah kau paham apa arti
pengorbananku selama ini? Tidakkah kau merasakan deras aliran darahku ketika
kita bersentuhan? Ketika tanganku dan tangan mu saling berjabat. Ketika matamu
dan mataku saling menatap.
Kini kau pergi, seolah tak
pernah terjadi apa-apa. Memang tak terjadi apa-apa. Dan tidak akan pernah
terjadi apa-apa, itulah seharusnya. Semoga kau bersama wanita yang tepat.
Wanita yang mampu mengasihimu, melebihi kasihku padamu. Aku selalu menghargai setiap waktu kebersamaan
kita, waktu yang setiap detiknya kuhabiskan untuk menatap bebas garis wajahmu.
Waktu yang selalu ku manfaatkan untuk menghafal lekuk senyum mu. Kebiasaan yang
tak lagi bisa kulakukan setelah kau bersamanya.
Merelakan kepergianmu tak
pernah terbayangkan, kau pergi tanpa membawa hatiku. Tapi kau meniggalkan
hatimu bersamaku. Aku akan selalu merindumu, tawamu, candamu, desah nafasmu,
dan semua tentang mu tak pernah kecil dimataku. Setiap inci pergerakan mu
selalu terekam dalam memoriku.
Tuhan, ajarkan aku menjadi wanita yang
ikhlas! “TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN, NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.” |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar