Kala itu matahari telah menarik diri dari peraduannya, kilauan bintang
telah mencoba menggantikan sang senja dari kerajaannya. Langit begitu
indah saat pergantian waktu, namun tak seindah rasa yang terlanjur
berkecamuk jauh dilubuk hatiku, sanubariku terasa tersayat-sayat,
nampaknya roh ku pun telah jauh berlari, menjauh dari tubuhnya, seketika
aku merasa sekujur tubuhku kaku dan perlahan mataku mengeluarkan
butira-butiran beningnya, namun kali ini frekuensinya lebih cepat,
debitnya pun lebih banyak, saat itu kau berkata ingin "berpamitan"
sungguh kata itu telah merobohkan benteng pertahanan ku yang selama ini
dengan susah payah ku bangun, untuk bisa kuat saat kau katakan ucapan
berpisah.
Butiran bening itu terus mengalir, kucoba ku bendung namun aku
tak kuasa. Kau begitu fasih mengucapkan kata perpisahan itu, Perpisahan
yang begitu berat untukku. Aku tau akan kehilangan mu suatu hari nanti,
tapi aku tak menyangka akan secepat ini kau pergi.
Kasih, tuntutlah ilmu yang sebanyak-banyaknya disana. Aku selalu
berdo'a untuk setiap kelancaran urusan mu,
Tetaplah berpegang teguh pada agamamu, dan jangan lupa kerjakan
kewajibanmu. Namamu akan selalu terselip dalam setiap bait do'aku.
“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN,
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar