Sabtu, 12 Oktober 2013

Kisah seorang sahabat


Ini adalah sebuah kisah seorang sahabat, yang menceritakan kisah asmaranya  bersama sang pujangga disebuah bilik dalam perpustakaan, bersekat rak-rak buku, dia perlahan menceritakan awal kisah asmaranya. Dia terus bercerita, aku asik membolak-balik lembaran demi lembaran  buku, namun pikiranku tetap fokus kepadanya, fokus mendengarkan keluh kesah hatinya. Dia tampak serius bercerita. Dan ceritanya mengalir begitu saja.
Dia bercerita tentang betapa menyakitkannya menjalani hari-hari bersama orang yang dia sayangi tanpa mengetahui pasti apakah orang yang dia sayangi itu juga menyayanginya. Melewati hari demi hari dengan seorang yang telah berstatus sebagai kekasih. Kekasih yang manisnya hanya dia awal saja, kekasih yang mungkin telah luntur kasih sayangnya. Kekasih yang tak pernah mengerti inginnya, kekasih yang selalu ingin menjadikannya orang lain, kekasih yang tak pernah menanyakan apa mimpi-mimpinya. Dia bodoh. Bodoh karna telah mempertahankan seorang kekasih yang jelas-jelas tidak memperlakukannya layaknya seorang kekasih. Alasannya klise, karena cinta. Cinta telah membuatnya kuat, cintalah yang telah membuatnya bertahan hingga sekarang, cinta yang perlahan juga akan mengikis kesabarannya. Namun mungkin dia lupa, bahwa cinta itu membahagiakan, bukan menyiksa seperti ini. Cinta itu diperjuangkan oleh dua hati, bukan seorang diri. Dia mungkin masih labil dan tak pandai mengatur emosinya, itu tak bisa di pungkiri. Dia begitu benci diabaikan, namun mengapa masih bertahan hingga saat ini.
Kadang aku ingin memotong pembicaraannya, aku ingin menyampaikan pendapatku. Tapi ku urungkan niatku, air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya membuatku larut dalam kisahnya. Dia begitu sabar menghadapi kekasihnya,  hanya mampu terdiam saat menyaksikan hal-hal yang terjadi tanpa persetujuannya. Tak dianggap. Dia hanya mampu mengikuti jalan yang telah digariskan Tuhan. Dia selalu berharap agar Tuhan memeluknya setiap dia merasa tak mampu lagi.
Entah sampai kapan dia akan mempertahankan hubungannya, tapi bagaimana dia bisa sekuat itu mempertahankan suatu hubungan jika hanya dia seorang diri yang berjuang. Kadang dia menutupi kesedihannya dengan seulas senyum, namun hatinya sudah terlalu rapuh dikikis oleh rasa kecewa. Dia wanita yang tangguh. Berjuang sendiri mempertahankan cintanya, tak peduli bentakan dari sang kekasih, karena sekeras apapun bentakan yang diberikan kepadanya, tak akan mampu menumbangkan benteng pertahanannya. Dia tetap pada pendiriannya, memperjuangkan sendiri cintanya.
Dia bukan batu, dia juga tau rasa sakit itu seperti apa. Dia juga tau di abaikan itu seperti apa. Dan dia juga tau tak dianggap itu seperti apa. Seorang wanita tak meminta kekasihnya melakukan banyak hal untuknya, tapi cukup memberinya kabar, dan menanyakan kabar, adalah sebuah hal manis yang seorang wanita selalu harapkan.
“Semoga kelak kau akan bahagia kawan, semoga kekasihmu segera sadar besar arti pengorbananmu selama ini, semoga kekasihmu paham apa yang telah kau mimpi-mimpikan. Semoga kekasihmu mampu memperjuangkan mu saat kau sudah merasa lelah, seperti dulu kau memperjuangkannya.”



“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN, 
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”

1 komentar: