Ini adalah sebuah kisah seorang sahabat, yang
menceritakan kisah asmaranya bersama
sang pujangga disebuah bilik dalam perpustakaan, bersekat rak-rak buku, dia perlahan menceritakan awal kisah
asmaranya. Dia terus bercerita, aku asik membolak-balik lembaran demi
lembaran buku, namun pikiranku tetap fokus
kepadanya, fokus mendengarkan keluh kesah hatinya. Dia tampak serius bercerita.
Dan ceritanya mengalir begitu saja.
Dia bercerita tentang betapa menyakitkannya menjalani
hari-hari bersama orang yang dia sayangi tanpa mengetahui pasti apakah orang
yang dia sayangi itu juga menyayanginya. Melewati hari demi hari dengan seorang
yang telah berstatus sebagai kekasih. Kekasih yang manisnya hanya dia awal
saja, kekasih yang mungkin telah luntur kasih sayangnya. Kekasih yang tak
pernah mengerti inginnya, kekasih yang selalu ingin menjadikannya orang lain,
kekasih yang tak pernah menanyakan apa mimpi-mimpinya. Dia bodoh. Bodoh karna
telah mempertahankan seorang kekasih yang jelas-jelas tidak memperlakukannya
layaknya seorang kekasih. Alasannya klise, karena cinta. Cinta telah membuatnya
kuat, cintalah yang telah membuatnya bertahan hingga sekarang, cinta yang
perlahan juga akan mengikis kesabarannya. Namun mungkin dia lupa, bahwa cinta
itu membahagiakan, bukan menyiksa seperti ini. Cinta itu diperjuangkan oleh dua
hati, bukan seorang diri. Dia mungkin masih labil dan tak pandai mengatur
emosinya, itu tak bisa di pungkiri. Dia begitu benci diabaikan, namun mengapa
masih bertahan hingga saat ini.
Kadang aku ingin memotong pembicaraannya, aku ingin
menyampaikan pendapatku. Tapi ku urungkan niatku, air matanya yang terus
mengalir membasahi pipinya membuatku larut dalam kisahnya. Dia begitu sabar
menghadapi kekasihnya, hanya mampu
terdiam saat menyaksikan hal-hal yang terjadi tanpa persetujuannya. Tak
dianggap. Dia hanya mampu mengikuti jalan yang telah digariskan Tuhan. Dia
selalu berharap agar Tuhan memeluknya setiap dia merasa tak mampu lagi.
Entah sampai kapan dia akan mempertahankan hubungannya,
tapi bagaimana dia bisa sekuat itu mempertahankan suatu hubungan jika hanya dia
seorang diri yang berjuang. Kadang dia menutupi kesedihannya dengan seulas
senyum, namun hatinya sudah terlalu rapuh dikikis oleh rasa kecewa. Dia wanita
yang tangguh. Berjuang sendiri mempertahankan cintanya, tak peduli bentakan
dari sang kekasih, karena sekeras apapun bentakan yang diberikan kepadanya, tak
akan mampu menumbangkan benteng pertahanannya. Dia tetap pada pendiriannya,
memperjuangkan sendiri cintanya.
Dia bukan batu, dia juga tau rasa sakit itu seperti apa.
Dia juga tau di abaikan itu seperti apa. Dan dia juga tau tak dianggap itu
seperti apa. Seorang wanita tak meminta kekasihnya melakukan banyak hal untuknya,
tapi cukup memberinya kabar, dan menanyakan kabar, adalah sebuah hal manis yang
seorang wanita selalu harapkan.
“Semoga kelak kau akan bahagia kawan, semoga kekasihmu
segera sadar besar arti pengorbananmu selama ini, semoga kekasihmu paham apa yang
telah kau mimpi-mimpikan. Semoga kekasihmu mampu memperjuangkan mu saat kau
sudah merasa lelah, seperti dulu kau memperjuangkannya.”
“TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU ADALAH KENYATAAN,
NAMUN TIDAK SEMUA YANG AKU TULIS ITU, JUGA ADALAH KARANGAN.”